Rabu, 18 September 2013

All Fun, Cause Share n Re-Fight

Dokumen yang nyaris dibocorkan oleh wikileaks ini adalah dokumen resmi milik FBI, berisi tulisan yang memuat detil peristiwa Sidang Umum KM yang telah lalu dan konspirasi kemakmuran didalamnya yang  tidak terekspos ke publik. Tulisan yang bahkan hanya diketahui oleh segelintir pimpinan BEM KM dan seharusnya tidak pernah boleh dipublikasikan...

32 Desember 2012..

Hari in launching perdana Sidang Umum 1 yang menayangkan Pelantikan MPM KM, DPM KM, dan Presma-Wapresma terpilih. Dengan tiket premier ditangan, Gua langkahkan kaki berirama Gangnam style (plis jangan dibayangin) ke RK. Pinus untuk menyaksikan tayangan tersebut.
Gua sampai di TKP tepat 5 menit sebelum Sidang Umum 1 dimulai ketika PJS kami saudara Pahmi berbicara didepan dan tiba-tiba masuklah 3 orang mahasiswa dengan tidak sangat sopan berteriak-teriak dengan menggunakan thoa dan membawa bendera merah putih (padahal 17an udah lewat). Mereka yang menamakan diri mereka “Supernuvo” adalah Alfun, Kausar, dan Rifai. Melihat daki yang menggantung di leher mereka, sebenarnya Gua ragu kalo mereka adalah model iklan sabun Nuvo (walaupun mengaku Supernuvo) sebagaimana yang digosipkan. Disana mereka menuntut PJS (Penanggung jawab seadanya) adalah illegal tidak sah karena tidak ada didalam UUD KM. Mereka sangat menolak keberadaan PJS yang hanya satu orang meskipun sudah ada tim yang membantu PJS.

“Kalo PJS hanya satu bagaimana jika PJS nya kami bedakin?” ucap Alfun.
“Yoman, Kita bawa aja ke Rengasdengklok biar gada lagi PJSnya” sahut Kausar.
Dua Mahasiswi samping Gua pun komen meskipun sambil berbisik, sebut saja Mawar dan Melati.
“Dibedakin? Serem ikhh (sambil nutup mata tapi ngebayangin)” ujar Mawar.
“Rengasdengklok? Lu pikir Kemerdekaan? -,-“ gumam Melati

Setelah mendengarkan komen mereka yang ga penting benget (SUMPAH GA PENTING BANGET!), Gua kembali fokus pada atraksi di depan.
Keadaan kembali tenang berkat kedipan mata Bapak UKK.Sidang Umum 1 pun dibuka yang dilanjutkan dengan Hymne Kampus “Baik-Baik Sayang” favorit bapak Rektor Kami Hary Tanosoedibjo. Namun sesaat setelah dilantukannya Hymne, Sahabat kita Supernuvo kembali berteriak-teriak (obatnya abis mungkin..). Mereka menuntut agar KM dibekukan. Ini jelas tidak bisa diterima dengkul Gua. Mau jadi apa Mahasiswa Kampus tanpa adanya organisasi KM? Yang ada Mahasiswa nantinya jadi pada kunang-kunang = kuliah nangis-kuliah nangis gara-gara nilai ujian mereka yang selalu bersinergi membentuk rantai Karbon. :P
Kak Sipit dan Kak Zaenab selaku Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa terpilih pun maju mengajak Sahabat kita Supernuvo berdialog. Setelah melalui perundingan yang alot kaya kerupuk di Red Corner, akhirnya Supernuvo sepakat untuk menyabut tuntutan mereka mengenai pembekuan KM. Namun menyikapi kecurigaan adanya “suntikan” dana kampanye dari Suster Keramas, mereka menuntut KM agar menganut sistem kepartaian. Heuh, ketebak nih mereka Logika Matematikanya pasti D (dongo).

“Katanya ga suka sama suntikan dana dari Suster Keramas, tapi kenapa sekarang nuntut KM pake sistem kepartaian?” pikir Gua #minummigren

KM Kampus Kita tidaklah cocok memakai sistem kepartaian. Hal ini coba disampaikan Kak Sipit dan Kak Zaenab kepada Sahabat kita Supernova. Namun yang terjadi adalah keadaan kembali memanas hingga teman-teman yang berdialog didepan nyaris adu kelereng, sampai tiba-tiba Rifai dari Supernuvo maju kedepan mengambil palu sidang dan melemparnya ke arah peserta sidang. Untung saja tidak sampai mencederai peserta sidang. Namun peserta yang duduk dibelakang kemudian berdiri dan berteriak lantang lantaran kesal terhadap perbuatan Rifai.

“Woy Mas! Hati boleh emosi, tapi pikir juga dong pake otak! Masa ngelempar segitu kencangnya ga kena?” #plakk

Bapak UKK yang melihat kejadian ini pun langsung melerai pertunjukan yang terjadi didepan seraya berteriak “kalian adalah kaum yang berintelek, selesaikan dengan cara baik-baik, jangan seperti preman, Hidup mahasiswa!” jargon mahasiswa menjadi obat penenang sesaat disusul kremudian tangis sang bapak UKK. Kami semua terdiam, dalam benak bertanya apa gerangan yang ditangisi bapak ini.
Setelah tenang, bapak UKK pun menceritakan kisahnya yang ternyata adalah alumni Kampus ini juga. Beliau menceritakan bagaimana perjuangan dan aksi mahasiswa ketika zaman orde baru dulu, dimana kegiatan-kegiatan yang kami lakukan saat ini pada zaman bapak UKK bisa saja berujung maut. Namun, tidak satupun mahasiswa saat itu gentar. Itu semua semata karena kecintaan mereka yang begitu besar pada tanah air ini. Bukan seperti yang kami lakukan saat ini. Kami benar-benar malu Kami malu sekaligus terharu mendengar kisah Beliau. Gua, Kak Sipit dan Kak Zaenab, begitupula para personil Supernuvo ikut terisak hingga maskaranya luntur. #eeh
Siang itu semuanya selesai. Terlepas dari pro-kontra kejadian ini, kami bersyukur atas cambuk pengingat yang dipecutkan Bapak UKK dan Sahabat kami Supernuvo. Untuk mengenang Semangat para personil Supernuvo, Kak Sipit mengangkat tiga semangat yang akan Kak Sipit dan Kak Zaenab bawa di BEM KM 2013 ini yang diambil dari nama Alfun, Kausar dan Rifai yakni FUN, SHARE, dan FIGHT... :D

Kami adalah MAHASISWA
Tulang punggung Bangsa ini
Inilah hari ego dienyahkan
Guna berkreasi untuk negeri

@ichadawawin

*Cerita ini hanyalah Fakta. Kesamaan tokoh, alur dan peristiwa hanyalah kesengajaan semata


Jumat, 13 September 2013

Searching and Serving the Best? : Pejuang vs Satpam!

Sesungguhnya 6ua enggan menuturkan kisah ini. Namun karena taklimat 2 x 15 menit dari Wapresma (entah, 6ua juga bingung ini taklimat apa skorsing sidang umum?), 6ua ga punya pilihan lain kecuali membeberkan kisah yang sesungguhnya pada publik...


19 Agustus silam saat pertemuan orang tua MABA, seorang ibu terseok-seok menghampiri 6ua yang saat itu ada di tenda informasi.

“Asrama putra dimana ya mas?”
“Oh asrama putra, dari sini ibu.. blablabla..”
“Wah, jauh ya? Harus naik ojek ya? Ga ada bus nya gitu?“

Yah, seandainya bus IPB bisa beroperasi seintensif bikun (bis kuntet) UT (Universitas Tetangga). Sayangnya di hari itu bus IPB sedang tidak beroperasi dikarenakan supirnya ramai-ramai cuti hamil.

Di hari yang sama, ramai-ramai orang tua MABA mendatangi BPA (Badan Pengelola Asrama, bukan Asmara! :p )

“Wah, kalo sudah begini demo aja! Masa Saya udah bayar mahal mahal, anak Saya belum dapet kasur di kamar asramanya?”
“Hotel dekat sini dimana pak? Biar anak saya nginap di hotel saja, daripada di Asrama yang tidak ada kasurnya!”

Begitulah keluh para orang tua MABA ini.

Yap, bermula dari kelimpahan kuota MABA yang mancapai lebih dari 3.800 MABA dibarengi kapasitas asrama yang belum siap menampung sejumlah itu membuat teman-teman BPA dan SR terpaksa membagi 1 kamar yang tadinya untuk 4 orang menjadi untuk 5 orang dan merombak musholla dan ruang bersama untuk digunakan sebagai kamar sementara. Ruang ternak jamur pun terpaksa dialih fungsikan menjadi Mushola seadanya. Kejadian ini diperkeruh dengan kasur yang ternyata ditenderkan di Jawa dan baru akan tiba kamis tanggal 22 Agustus, membuat kepala pak Menteri Jakpus BB Hemat mulai ngebul (silahkan definiskan sendiri kepanjangan BB disini)..


20 Agustus, registrasi MABA jalur UTM dan SBMPTN. Hari ini Kak BB bersikeras untuk bertemu Rektor untuk membahas terkait kelebihan kuota MABA ini. Kepalanya yang semula ngebul sekarang ini sudah hampir korslet (keluar listrik gitu) mengingat Om Ony Syahrial yang sampai pinjam sarung tinju untuk gebrak meja (biar ga sakit sakit amat tangannya) pun tetap mengatakan jumlah MABA yang akan diterima tahun ini 3400 sementara fakta yang terjadi berlawanan. Api sudah disulut, Perang tiada dapat dihindari. Hari itu ka BB putuskan untuk menyerang Rektor.

Berbeda suhu dengan Ka BB, pak Presma stay cool dengan hashtagnya #OverKuotabeCalm. Tetap tenang dan dengan santun, sesuai namanya Muhammad Sipit Susantun, Bang Sipit manyarankan Ka BB dan 6ua untuk mengumpulkan bukti di lapangan terlebih dahulu dan  menghabisi om Ony Syahrial dulu sebelum menyerang pak Rektor. Benar-benar sebuah strategi Perang yang mengerikan dari sang Jenderal.

Maka berangkatlah 6ua dan Ka BB ke Asrama Putra untuk mengumpulkan bukti-bukti. Setelah mewawancarai SR dan berkeliling asrama, perhatiam kami tertuju pada sebuah ember berwarna biru yang tergantung di tiang parkiran bertuliskan “mohon pengertiannya bagi yang parkir”. 6ua pun meminjam kamera Ka BB untuk memotret ember tersebut, sementara Ka BB bersiap menyalakan motornya untuk kabur (sepertinya doi sudah memprediksi hal buruk akan terjadi, benar-benar berbakat jadi papa loreng). Saat akan memotret ember tersebut, tiba-tiba seekor satpam yang mulia keluar dan menghardik 6ua.

“Ngapain mas? Mahasiswa sini bukan? Angkatan berapa?!” (awal nanya udah pake urat)
“Saya dari BEM KM pak, Saya disini lagi mau liat liat fasilitas Asrama untuk di sampaikan keadaannya ke.. blabla..” (mencoba menjelaskan)
“Mau ngapain potret ember ini? Ember ini ulah mahasiswa dan ditaro disini saat temen Saya yang bagian jaga! Mana KTM kamu?!”
“Jadi gini pak..” (Sabar tanpa batas, dalam hati mah “siapa Lu pake malak KTM 6ua?”)
“Kamu mau nyudutin satpam ya? Kaya yang udah udah kemarin! Mahasiswa kaya kamu tuh seenaknya aja bikin aturan tiket parkir gratis!” (uratnya copot, mulai nunjuk nunjuk ke muka 6ua)
“ (akhirnya urat 6ua terlepas dari segelnya) nih yah Pak, kalo mau mah 6ua bisa nyudutin Rektor. Ngapain juga 6ua nyudutin Satpam kaya Lu? Ga Level! Masalah tiket parkir gratis sih derita Lu, protes sama BEM KM tahun lalu lah siah! Lagian baguslah tiket parkir gratis, masalah Lu apa?!”

Duel “urat” pun terjadi. Soal urat dan nyali, 6ua ga kalah jago. Ngeliat badan si Satpam yang mulia yang segede gedebong pisang, 6ua tetep PD jika benturan fisik harus terjadi (PD bonyok maksudnya).

Melihat 6ua dihadang seekor satpam, ka BB pun menghampiri. Beruntung, ternyata pak Satpam yang mulia dan ka BB adalah teman main gundu semasa mereka kanak-kanak sehingga pak Satpam pun mau mendengarkan penjelasan ka BB dengan muka kalem. Coba pak satpam kalem begini dari awal dan ga pake tunjuk-tunjuk muka 6ua, 6ua kan jadi ga harus buang-buang cakra demi menghadapi seekor satpam macam ini? Yang jadi pertanyaan, apakah kelakuan semua satpam IPB seperti ini kepada mahasiswa yang seharusnya mereka lindungi? Tentu jawabannya tidak semua satpam IPB demikian, karena 6ua pun kenal beberapa Satpam Kampus yang budiman.

Layaknya program tali kasih, untuk sesaat 6ua biarkan ka BB dan pak Satpam yang mulia bernostalgia mengenang masa lalu mereka saat bermain gundu dulu. Usai mereka saling mengelap air mata satu sama lain (6ua sarankan gausah dibayangin), 6ua dan ka BB pun  menuju GWW untuk kembali membantu registrasi MABA.

Sesampainya di meja informasi, 6ua menceritakan duel dengan pak Satpam tersebut ke pak Wapresma, Kang Zaenab. Ternyata doi punya cerita serupa dimasa TPBnya dimana kang Zaenab sempat meminjam sarung tinju untuk menggebrak meja saat duel dengan seekor satpam asrama putri dikarenakan tidak boleh meminjam meja untuk acara TPB padahal sudah diizinkan BPA. Mungkin karena mendengar kisah inilah om Ony terinspirasi untuk gebrak meja pake sarung tinju (oke, ini bukan hikmahnya). Yang lebih penting, terlepas shahih atau tidaknya cerita kang Zaenab, beliau mengingatkan bahwa dalam memperjuangkan kesejahteraan mahasiswa banyak, seringkali kita akan dibenturkan dengan birokrasi yang rumit, oknum pejabat institusi yang tidak bersahabat, dan berbagai macam hambatan lainnya. Itu tantangannya! Dan selama kita masih berjalan di koridor kebenaran, siapapun lawannya dan apapun kepentingannya, bahkan Wakil Rektor sekali pun tidak boleh memadamkan semangat juang kita.

Wejangan pak Wapresma terhenti oleh tangisan seorang gadis kecil yang menghampiri kami di meja informasi. Yap, kami kedatangan seorang adik MABA yang menangis karena kehilangan kartu tanda mahasiswa (KTM) sementaranya sehingga ia tidak diperbolehkan menyelesaikan administrasinya sebelum KTM nya ketemu. Melihat air mata yang tak kunjung surut dari gadis kecil ini, yang cantik pula, 6ua dan ka BB pun mencoba membantunya (motif macam apa ini? :p) berbicara pada petugas administrasi yang juga mahasiswa. Lagi-lagi pelayanan tanpa hati terjadi disini, bahkan kali ini oknumnya mahasiswa yang lebih muda dari 6ua dan ka BB. Seharusnya hal semacam ini bisa diselesaikan tanpa ada urat yang copot atau air mata yang mengalir, hanya perlu sedikit simpati di hati sehingga yang dinamakan toleransi birokrasi bisa terwujudkan di kampus rakyat ini.


21 Agustus, hari pertama KRSan menjelang dimulainya kembali semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Berhubung ka BB Hemat yang menjadi Menteri Jakpus tahun ini dan 6ua sebagai PJ KRS periode ini, maka KRSan periode ini lancar jaya. Zehaha.. (serius, ada hubungannya!)

Banyak teman-teman mahasiswa yang berKRS ria disepanjang koridor Rektorat. Suasana berlangsung kondusif sampai seorang kakek tua berteriak memecah keramaian. Lagi dan lagi, seekor satpam yang menjadi dalangnya. Kali ini seekor satpam betina yang mulia. Mbak satpam ini tiba-tiba menghardik kakek tua yang berpakaian muslim ini karena melantunkan doa didepan Auditorium Andi Hakim Nasution dianggap yang dianggap mengganggu kenyamanan ruang publik. Tidak terima dibentak seperti itu oleh seekor satpam yang dari selisih usia dianggapnya bau kencur, Kakek tua itu pun marah besar.

“Beraninya kamu bentak orang tua! Umur kamu itu belum separuh umur saya! Kamu itu Cicit saya tahu! Saya ini pejuang, SBY saja hormat sama Saya! Ini kamu cuma satpam berani kurang ajar sama Saya!”

Ungkapan kemarahan yang keluar dari mulut kakek tua itu bergema menjauh, beriringan dengan langkahnya yang berjalan keluar rektorat ditemani dua orang mahasiswa  pasca sarjana yang mencoba menenangkan emosi sang kakek tua. Sementara mbak satpam yang mulia pun hanya bisa tertunduk malu. Melihat ekpresinya mungkin doi berpikir “gua aja ga hormat sama SBY, ngapain juga hormat sama kakek tua kaya Lu!” (Suudzan beud 6ua... Zehaha..)

Sebagai mahasiswa IPB, ada rasa malu yang timbul dalam benak 6ua dengan terjadinya hal semacam ini di IPB. Kejadian seperti ini seharusnya bisa  dihindari jika saja mbak satpam yang mulia itu bisa dengan santun mengingatkan kesalahan kakek tua tersebut.





Dalam 3 hari saja, 6ua diperlihatkan berbagai kecacatan pelayanan di kampus rakyat ini baik secara fisik maupun dari sisi etika pelayanannya. Padahal selama ini dalam hal pelayanan mahasiswa, IPB tidak kalah dengan kampus anak-anak pejabat disana. Sebagai contoh, pengelolaan Beasiswa Bidikmisi IPB adalah yang terbaik di negeri ini. Bahkan, sistem cluster penentuan biaya SPP berdasarkan gaji orang tua  pada kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang baru-baru ini diterapkan pun mengadopsi sistem pemungutan biaya SPP IPB yang memang telah lebih dulu diterapkan sebelumnya. Dengan segudang prestasi tersebut, bisa kita katakan sampai saat ini IPB telah menegakkan motto Searching and Serving the best yang selama ini disandangnya.

Namun, bagaimana dengan kasus yang terjadi saat ini?

Bagaimana IPB bisa meneriakkan Searching And Serving The  Best?

Sementara MABA angkatan 50 harus bersempit-sempit ria dengan 5 orang dalam 1 kamar, bahkan di minggu registrasi MABA itu masih banyak yang belum mendapatkan kasur.

Bagaimana IPB bisa meneriakkan Searching And Serving The  Best?

Sementara garda terdepan dalam pelayanan mahasiswanya saja dalam radius 100 m sudah memancarkan sinar ultraviolet yang membuat mahasiswa enggan mendekat, melayani dengan sikap tak bersahabat seolah meladeni penjahat.

6ua masih yakin, IPB telah mendapatkan putra putri terbaik bangsa dan tentunya akan memberikan pelayanan yang terbaik pula. Ketika ngobrol dengan Dirmawa, pak Rinso pun mencoba meyakinkan 6ua bahwa pak Rektor punya segudang rencana perbaikan IPB kedepannya. Mulai dari infrastruktur kampus seperti transportasi dalam kampus dan asrama mahasiswa hingga pelayanan kesejahteraan mahasiswa. Namun ini membutuhkan kerjasama dari semua elemen yang terkait. Dalam pelayanan kesejahteraan mahasiswa misalnya, etika dan “ketulusan dalam melayani” mesti kita tumbuh suburkan di kampus Pertanian ini.

Bukankah menjadi indah ketika kita datang ke loket kemahasiswaan disambut dengan segelas  senyuman hangat, bukan dengan secercah sinar UV yang mambakar kulit? Bukankah indah ketika kita bisa bercanda tawa saat berpapasan dengan perangkat kampus seperti satpam, petugas kebersihan dan kawan-kawannya, bukan malah ketemu dan saling melempar ekspresi militer?

“Sekali-kali janganlah engkau meremehkan kebaikan meskipun sekedar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim)

Mari bantu Kampus kita tercinta ini untuk dapat terus mencari dan memberi yang terbaik. Semoga segala perbaikan IPB kedepannya dimudahkan dan dapat segera kita nikmati bersama... :)

@ichadawawin

*Cerita ini hanyalah Fakta. Kesamaan tokoh, alur dan peristiwa hanyalah kesengajaan semata